Epilog
Volume 1 - Chapter 14
January 1, 2019
Setelah rapat selesai, Fina sedang menyiapkan teh di kamarnya. Karena ia tahu tamunya akan segera datang.
"Aku. Boleh masuk?"
"Silakan, Ar-sama."
Tamu yang ditunggu-tunggu, Ar, sedikit terkejut saat memasuki kamar dan melihat teh yang sudah disiapkan. Namun, melihat Fina yang tersenyum cerah, ia duduk di kursi tanpa berkata apa-apa.
"Tehnya beda dari biasanya..."
"Aku pikir Anda lelah, jadi aku membuatkan teh yang berkhasiat memulihkan kelelahan. Meskipun Anda tidak mau, Anda harus meminumnya."
"Aku tidak begitu lelah."
Ar bergumam begitu, tetapi di mata Fina ia terlihat masih lelah. Padahal sudah beberapa hari berlalu sejak pertempuran, dan seharusnya ia sudah beristirahat. Karena itulah Fina menyiapkan teh itu. Ar menyesap teh dengan rasa pahit dan aroma yang khas itu, lalu mengerutkan kening. Ia tahu rasa teh itu.
"Ini teh yang dulu Ibunda sering buatkan untukku... Seharusnya menggunakan Daun Teh dari Timur dan diseduh dengan cara yang unik, kan?"
"Ibuku juga mengajariku. Daun tehnya aku dapatkan dari kediaman ini. Karena Ar-sama terlihat lelah."
"Hah... memang benar aku lelah, tapi tidak perlu khawatir sampai segitunya."
"Syukurlah kalau begitu. Tapi tolong diminum sampai habis."
Fina tersenyum cerah, tetapi senyum itu memiliki kekuatan yang tak terbantahkan. Kalah oleh kekuatan senyum itu, Ar terus meminum tehnya tanpa berkata apa-apa.
Keheningan berlangsung sejenak. Namun, itu bukan keheningan yang canggung. Ada suasana nyaman di antara mereka yang membuat mereka tidak perlu bicara. Bagi Ar, itu terasa sangat menenangkan. Di depan umum, ia berperan sebagai Pangeran Ampas yang tidak kompeten, dan di balik layar, ia adalah Silver, petualang terkuat. Terlebih lagi, sekarang ia bahkan bergerak di balik bayang-bayang demi memenangkan Leo dalam perebutan takhta. Hampir tidak ada waktu bagi Ar untuk bersantai. Namun, Fina memberikannya waktu yang berharga itu. Mungkin karena itulah. Ucapan terima kasih keluar begitu saja dari mulut Ar.
"Terima kasih... untuk, yah, semuanya."
"Tidak. Justru aku yang seharusnya berterima kasih. Terima kasih banyak telah menolongku. Dan lagi-lagi, aku merepotkanmu, ya..."
"Bukan merepotkan! Kau yang mengamankan seruling itu di sana, makanya 'tsunami'-nya tidak meluas dan tidak ada korban yang tidak perlu. Hanya saja..."
"Hanya saja?"
"Itu... tolong jangan lakukan hal yang terlalu berbahaya. Saat itu, rasanya jantungku mau berhenti."
"Iya, ya... aku juga mengira akan mati. Tapi, Ar-sama datang. Aku sangat senang."
Sambil berkata begitu, Fina tersenyum. Senyum yang lembut dan tenang, tetapi sedikit berbeda dari senyum yang ia tunjukkan pada banyak orang. Bukan senyum yang dibuat-buat, melainkan senyum yang terpancar alami dari rasa percayanya, yang semakin menonjolkan pesona Fina.
Tanpa sadar, Ar terpesona melihatnya. Setelah tersadar, ia menenggak tehnya untuk menyembunyikan rasa malunya. Tepat saat ia berpikir tehnya sudah habis, Fina segera menuangkan cangkir kedua.
"Ah...!?"
"Tolong minum dua atau tiga cangkir lagi."
"Ampun, deh..."
Sambil mengeluh, Ar kembali meminum teh itu dengan wajah masam. Fina menatap sosok Ar dengan gembira. Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua. Tak satu pun dari mereka yang memecah keheningan itu. Karena jika salah satu ingin bicara, ia akan bicara.
Sambil menikmati keheningan yang nyaman itu, Fina menatap Ar. Dengan wajah cemberut seperti anak kecil, Ar meminum tehnya. Pemandangan itu sangat jauh berbeda dari sosoknya saat mengunjungi kediaman Keluarga Duke Krainelt.
Melihat pemandangan seperti itu membuat Fina merasa sangat lega. Karena ia merasa Ar tidak berubah. Sama seperti saat mereka hanya sekali bertukar kata di masa lalu. Ar tidak mengingatnya. Fina sudah tahu itu. Lagi pula, saat itu wajah Fina tertutup kerudung. Itu adalah hari di mana Fina mulai dijuluki Putri Camar Biru.
Pertama kalinya di Ibukota Kekaisaran, kerumunan orang yang belum pernah ia lihat sebelumnya, dan di tengah-tengah itu, ketegangan karena akan bertemu dengan Kaisar. Bagi Fina yang berusia empat belas tahun, semua itu jauh melampaui kapasitasnya.
Saat Fina dilanda kecemasan dan hampir pingsan, Ar dengan santai menyapa dan menyemangatinya. Jika dipikir-pikir sekarang, Fina merasa itu adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab. Karena Ar kabur dari tempat yang akan dihadapi Fina dengan alasan merepotkan. Namun, percakapan itu berhasil menenangkan Fina. Dan ia berhasil mendapatkan kehormatan sebagai Putri Camar Biru. Mungkin bagi Ar itu adalah hal sepele, tapi bagi Fina itu adalah hal yang sangat besar. Sejak saat itu, Fina selalu mengagumi Ar.
Saat Ar datang ke rumahnya, Fina berpikir akhirnya ia bisa mengucapkan terima kasih. Karena itu, Fina tidak menggunakan kata "salam kenal" pada Ar. Namun, Ar yang ia temui kembali sedang sangat marah, dan Fina menjadi sedih karena mengira Ar telah berubah. Tapi, Ar sama sekali tidak berubah.
Sama seperti hari itu, ia tetap baik hati. Mengetahui rahasia Ar, Fina memohon pada ayahnya. Ia ingin berada di sisi Ar dan menjadi kekuatannya. Mungkin ia hanya akan menjadi beban. Meski begitu, Fina ingin berada di sisi Ar. Dalam bentuk apa pun, ia ingin menjadi kekuatan bagi Ar.
Saat sedang memikirkan hal itu, tanpa sadar Ar sudah tertidur dengan napas yang teratur. Melihat wajah tidurnya yang polos, Fina tersenyum kecil, lalu mengambil selimut dan dengan lembut menyelimuti Ar.
"Anda mungkin tidak ingat..."
Sambil berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar, Fina dengan lembut menggenggam tangan Ar. Sambil berdebar-debar karena takut membangunkannya, ia perlahan mendekatkan wajahnya ke pipi Ar.
Lalu, ia memberikan ciuman yang hanya sekadar sentuhan. Hanya dengan itu, wajah Fina sudah memerah padam.

Sambil berpikir bahwa rona merah ini tidak akan hilang untuk sementara waktu, Fina meminum air yang tersedia untuk meredakan panas di wajahnya, lalu menarik napas dalam-dalam berkali-kali sebelum akhirnya melihat ke arah Ar. Melihat Ar yang tertidur lelap, Fina tersenyum kecut.
Pemburu ini tidak tahu. Bahwa di hari itu, ia telah menembak jatuh seekor camar.
"Zandra-sama. Ada pesan dari 'Sang Nyonya'. Katanya sudah tiba waktunya."
Seorang pria paruh baya melapor dari bayang-bayang ruangan. Zandra yang menerima laporan itu meminum anggur merah darahnya, lalu menjawab singkat, "Begitu."
"Kehilangan posisi Duta Besar Berkuasa Penuh memang menyakitkan, tapi sudahlah. Aku tidak butuh bantuan negara lain. Yang penting adalah seberapa besar kekuasaan yang bisa kupegang di Ibukota Kekaisaran. Selagi si kembar itu sibuk membangun koneksi di negara lain, aku akan mendapatkan kekuasaan yang pasti di Ibukota Kekaisaran."
"Akhirnya tiba juga waktunya."
"Ya. Butuh waktu bertahun-tahun, tapi dengan ini aku juga bisa mendapatkan kursi 'Menteri'. Aku bisa mendapatkan hak suara dalam Rapat Dewan Penasihat yang selama ini dimonopoli oleh Eric!!"
Sambil berkata begitu, Zandra tertawa dengan suara melengking. Tawa itu berlangsung sejenak, dan setelah puas, ia bertanya pada pria itu.
"Ngomong-ngomong... bagaimana dengan orang-orang yang kukirim untuk Arnold?"
"Tidak ada yang kembali. Kemungkinan besar mereka dihabisi oleh kepala pelayan itu."
"Aku meremehkannya, menganggapnya veteran tua yang sudah pensiun, ya. Lain kali, seranglah dalam kondisi yang sempurna. Kepala pelayan itu adalah satu-satunya ancaman di kubu si kembar."
"Seorang pembunuh legendaris yang dulu dijuluki 'Dewa Kematian'. Entah kenapa, sungguh aneh ia menjadi kepala pelayan Pangeran Ampas."
"Benar-benar menyia-nyiakan harta karun. Lagi pula, dia juga punya hubungan dengan anak ajaib Keluarga Amsberg. Kenapa ya, harta karun selalu jatuh ke tangan orang yang tidak mengerti nilainya."
"Suatu saat nanti, itu semua akan menjadi milik Zandra-sama."
Mendengar kata-kata pria itu, Zandra mengangguk dengan senang. Benar, semuanya akan menjadi miliknya. Untuk itulah ia telah mempersiapkan segalanya sejak lama.
"Ya, benar. Tepat sekali! Aku pasti akan merebut takhta ini. Akan kulakukan segalanya sesuka hatiku! Para sainganku yang menyebalkan itu juga akan kupenggal semua! Ah... aku tidak sabar..."
Sambil berkata begitu, Zandra menyesap anggurnya dengan ekspresi terbuai. Di dalam benaknya, sudah terbayang pemandangan para saingannya yang disiksa dengan kejam, lalu dipenggal sambil memohon ampun.
Dan dengan demikian, perebutan takhta pun semakin memanas....