Bab 6: Hari Penghakiman - Bagian 2

Volume 4 - Chapter 13

February 4, 2026


5

Aku melacak Pahlawan yang melarikan diri ke dalam bangunan dengan Presence Sense. Ada satu orang di dalam. Ada seorang pria yang berlari sambil terguling di dalam bangunan. Aku tahu pria itu melarikan diri melalui bangunan ke jalan di sisi sebaliknya.

Melompati bangunan untuk mengejar akan membuang waktu. Aku membungkuk, menghancurkan dinding bangunan, dan memaksa masuk. Sambil merasakan benturan reruntuhan di punggungku, aku merangkak keluar ke jalan di sisi sebaliknya.

Begitu aku keluar, bangunan di belakangku runtuh total. ...Maaf untuk pemiliknya, tapi mau bagaimana lagi.

Terasa hawa keberadaan dari sisi kiri. Saat aku menoleh, Pahlawan ada di sana. Dia bersandar di dinding dengan berlumuran darah, terduduk. Pendarahannya parah, sepertinya dia sudah tidak bisa bergerak dengan leluasa.

image_00037

Statusnya menunjukkan dia bisa mati kapan saja.

Sedikit jauh dari Pahlawan, terbentuk kerumunan orang. Semua menatap Pahlawan dengan tercengang. Namun begitu melihatku, kerumunan itu lari tunggang langgang. Pahlawan menatap kerumunan yang melarikan diri, lalu berdiri dengan kaki gemetar.

"Jawab aku, Laplace! Aku, apa yang akan terjadi padaku! Apa yang harus kulakukan!? Laplace! Jawab aku!"

Mendengar nama itu, tanpa sadar aku menghentikan gerakanku. Laplace... salah satu fungsi Suara Dewa yang katanya bisa mengungkapkan probabilitas kejadian. Kalau tidak salah Pahlawan juga memilikinya.

Aku terkejut mendengarnya tiba-tiba, tapi tidak aneh jika dia mencoba bergantung padanya di saat kritis begini. Karena aku punya firasat buruk, aku berusaha untuk tidak menyentuh skill itu.

Aku mengangkat lengan dan hendak menerjang ke arah Pahlawan. Bersamaan dengan itu, seorang gadis kecil dari kerumunan berlari keluar menuju ke arah Pahlawan.

"Tu-Tuan Pahlawan!"

Pahlawan selama ini selalu dipuja sebagai pahlawan di Harenae. Pasti banyak orang yang belum sepenuhnya memahami situasi keributan ini. Apalagi anak-anak. Maaf nak, tapi aku harus membunuh orang ini di depanmu.

Saat aku mengayunkan cakar ke bawah, Pahlawan bergerak dengan kecepatan yang tak terbayangkan dari kondisinya tadi. Dia melompat, membulatkan badan, dan mendekati gadis yang berlari itu. Itu bukan gerakan putus asa, tapi gerakan yang penuh perhitungan.

Pahlawan langsung memeluk gadis itu sambil menjatuhkan diri ke tanah.

"Kyaaa!"

Dia segera bangkit dengan cepat, dan menempelkan bilah pedang merah menyala ke leher gadis itu.

"Jangan mendekat! Kalau kau mendekat lagi, akan kubunuh anak ini! Kau mau? Bagaimana! Ayo, mundur! Mundur!"

"Ke-kenapa... bo-bohong... kenapa..."

"Diam! Aku benci bocah! Berisik sekali mengoceh di telingaku, kubunuh kau sekarang juga! Ayo, mundur! Kubilang mundur!"

Ti-tidak mungkin. Keterlaluan sekali sampai melakukan hal sejauh itu.

Jeritan dan suara kebingungan terdengar dari kerumunan.

"Ke-kenapa Tuan Pahlawan melakukan hal seperti itu..."

"Pasti ada kesalahpahaman, aku pikir begitu, tapi... kenapa..."

Pahlawan sama sekali tidak mendengarkan mereka.

"Fufu, ahahahaha! Aku tidak menyangka kau benar-benar ragu! Dasar bodoh! Padahal monster, tapi kau menjijikkan!"

Pahlawan menjauhkan ujung pedang dari leher gadis itu. Kupikir dia akan melepaskannya, tapi dia malah menyayat perut gadis itu dengan pedangnya.

"Ah, a, aa..."

Gadis itu memuntahkan darah dari mulutnya.

"Guoooooooh!"

Aku kembali bergerak maju dengan langkah besar, mengayunkan kaki depanku untuk mengincar kepala Pahlawan. Namun, Pahlawan menendang gadis yang sekarat itu ke atas, menjadikannya tameng di antara cakarku dan dirinya. Tanpa sadar, aku menahan cakarku dan menyauk gadis itu dengan kaki depan agar tidak melukainya. Pahlawan memanfaatkan celah dari kaki depanku yang tak terlindungi itu untuk menebas dengan pedangnya.

"Guuh!"

"Ahahahahaha! Dasar bodoh, bodoh, bodoh! Kau kena tipu cara yang sama berkali-kali!"

Pahlawan mengejar kerumunan warga sambil tetap mengangkat pedangnya.

Tidak mungkin... Dengan pendarahan sebanyak itu, seharusnya dia tidak bisa bergerak selincah itu. Tidak, jumlah pendarahannya berkurang. Apakah luka Pahlawan sedang sembuh?

Sarung pedang Pahlawan yang berlumuran darah terlihat berdenyut-denyut. Jangan-jangan, pedang itu menghisap darah manusia untuk memulihkan HP pemiliknya? Dia mengejar warga sipil itu untuk menebas orang lain demi mendapatkan HP, ya?

...Kawanku, aku andalkan kau.

"Gaaah!"

Saat Kawanku bersuara, gadis itu terbungkus cahaya. Setelah itu, aku meletakkan gadis tersebut dengan hati-hati di tanah.

"Ke-kenapa..."

Aku memunggungi gadis yang bergumam kebingungan itu dan mencari sosok Pahlawan.

【Skill Gelar Tiny Hero naik dari Lv 9 menjadi MAX.】

"Ayo, ayo! Kalau aku tidak pulih, aku bakal mati nih! Haha, ahahahaha!"

Pahlawan baru saja menebas orang kedua. Dia menendang pria yang baru ditebasnya itu ke pinggir jalan.

Aku melompat dan mendarat di depan Pahlawan, menghalangi jalur larinya.

"Ayo, ayo! Hahahaha... eh?"

Aku menancapkan cakarku ke dadanya, mengangkatnya, dan dengan penuh tenaga menghempaskannya ke tanah.

"Agah!"

Pahlawan sepertinya melakukan pemulihan dengan pedang aneh itu, tapi jumlahnya tidak seberapa. Gerakan Pahlawan belum pulih sepenuhnya. Tindakannya barusan benar-benar hanya usaha sia-sia yang putus asa. Aku tidak tahu berapa persen peluang yang dikatakan Laplace padanya, tapi aku tidak yakin dia punya peluang menang yang masuk akal sejak awal.

"Gah!"

Saat Kawanku mengaum, cahaya menyelimuti pria yang tergeletak di pinggir jalan. Dia masih hidup. Mungkin Kawanku sengaja tidak membunuhnya untuk menarik perhatianku tadi?

【Skill Gelar Rescue Spirit naik dari Lv 9 menjadi MAX.】

Tiny Hero dan Rescue Spirit, kedua skill yang bersifat kebajikan itu telah mencapai batas maksimumnya.

"Laplace! Ceritanya tidak begini! Tolong aku, tolong aku! Bagaimana, bagaimana caranya supaya aku selamat! Beritahu aku, beritahu aku! Jangan main-main denganku!"

Pahlawan berteriak sambil meronta-ronta menggerakkan kaki dan tangannya. Aku menambah tekanan pada kaki depanku yang menahannya. Lantai tanah di bawah tubuh Pahlawan retak.

"Obuh! A, aa..."

Tangan Pahlawan melepaskan pedangnya. Bilahnya membentur tanah dan menimbulkan suara denting logam.

"Siapapun, tolong aku! Jangan bercanda, kalian pikir sudah berapa banyak aku menolong kalian! Kalau aku mati, negara sampah seperti ini akan langsung kembali menjadi negara miskin! Apa kalian mengerti!"

Sebagian besar warga sudah melarikan diri. Namun, ada sekitar belasan orang yang tersisa, mungkin ingin melihat akhir dari kejadian ini. Tapi tentu saja, tidak ada yang bergerak.

Aku mengangkat kaki depanku yang lain, yang tidak digunakan untuk menahannya. Ini adalah akhirnya.

"Hii! Hentikan! Kalau aku, kalau Pahlawan mati, tidak akan ada yang bisa mengatasi Raja Iblis saat dia muncul nanti! Akan banyak orang mati! Kaulah, kaulah yang membunuh mereka! Hentikaaan! Lepaskan, lepaskan aku! Aku ini Tuan Pahlawan! Apa kau mengerti, dasar monster!"

Pahlawan menancapkan kukunya ke kaki depanku, mencengkeramnya erat, dan bahkan menggigitnya. Dia pasti sadar bahwa meronta sekarang pun sudah percuma.

【Skill Gelar Tiny Hero: LvMAX dan Rescue Spirit: LvMAX berubah menjadi Hero: Lv1.】

Hm? Apa itu?

【Syarat transfer Skill Suci Path of Humanity telah terpenuhi.】

Eh, Skill Suci?

Ngomong-ngomong, Pahlawan sepertinya punya skill yang tidak bisa diidentifikasi... apa itu yang dimaksud?

"A-apa maksudnya ini! Jangan bercanda! Setelah puas memanfaatkanku, kau mau membuangku begitu tidak dibutuhkan lagi, hah! Apanya yang Dewa kalau kelakuannya sepertimu!"

Sepertinya Pahlawan menerima pesan yang berbeda. Dia meronta membabi buta seolah ingin mencengkeram udara, wajahnya dipenuhi kebencian.

【Mendapatkan Skill Suci Path of Humanity: Lv--.】 【Skill Karakteristik God Voice naik dari Lv 4 menjadi 5.】 【Skill Gelar Laplace Intervention Authority naik dari Lv 1 menjadi 2.】

Entah kenapa level skill yang tidak ingin kunaikkan—dalam artian berbeda dari skill jahat—malah naik terus... Bagaimana status Pahlawan sekarang?

image_00038

...Li-lihat. God Voice sudah hilang. Deretan Skill Gelar yang tadinya begitu banyak kini kosong melompong seolah-olah itu semua bohong. Skill yang disensor pun tidak terlihat. Kupikir statusnya saja yang turun, ternyata batas level maksimalnya juga ikut merosot.

Aku sudah menduganya, tapi ini benar-benar kejam. Dia membuangnya begitu saja tanpa sisa.

"Jangan bercanda! Jawab aku, Laplace! Aku, apa yang akan terjadi padaku!? Jawab aku!"

Apakah suatu saat aku juga akan dicampakkan seperti orang yang sedang ribut di bawah kakiku ini? ...Tidak, sebaiknya tidak usah dipikirkan. Itu urusan nanti saat aku bertemu pemilik God Voice lainnya.

Pahlawan yang tadinya begitu kubenci, sekarang setelah jadi begini, aku malah merasa kasihan. Aku tidak tega melihatnya. Mari kita akhiri ini dengan cepat.

Saat aku berpikir begitu, aku melihat sosok Adoff di belakang kerumunan warga yang sedang melihat ke arah sini. Sepertinya dia mengejarku untuk melihat situasi.

"Gah."

Aku bersuara ke arah Adoff.

Adoff mengangguk kecil, lalu membelah kerumunan dan maju ke depan. Setelah memastikan itu, aku perlahan mengangkat kaki depanku. Pahlawan merangkak keluar dari bawah kakiku, memungut pedangnya, dan berdiri.

"Hah, hah! Kau lengah! Aku, aku masih bisa, bergerak! Hahahahahaha!"

Pahlawan berteriak demikian, lalu berlari terhuyung-huyung ke kanan dan kiri. Melihat kondisinya, aku ragu apakah dia masih bisa melihat jalan dengan benar.

"Negara ini! Kau juga! Dewa sialan itu juga! Suatu saat aku pasti akan membunuh kalian semua!"

Pahlawan meraung dengan suara serak.

Saat Adoff berdiri di depannya, Pahlawan membuka mulut lebar-lebar dan tertawa. Dia pasti berpikir untuk menebas Adoff demi memulihkan HP-nya.

"Kroco, mau apa kau denganku!"

Pahlawan mengayunkan pedangnya. Menghadapinya, Adoff juga mengayunkan pedangnya.

"『Turunkan pedangmu』uu!"

Pedang besar Adoff terhenti. Efek Prisoner's Brand rupanya masih aktif.

"Kali ini, matilah!"

Adoff menunduk untuk menghindari pedang Pahlawan. Dia melakukan roll depan, menyusup ke belakang Pahlawan, dan bangkit dengan cepat.

"A, aa...?"

Pahlawan kehilangan jejak Adoff. Adoff melakukan tekel dari titik buta Pahlawan. Saat keseimbangan Pahlawan goyah, Adoff menghantamkan sisi datar pedangnya. Pahlawan terjatuh dan punggungnya menghantam tanah.

"Gah!?"

"Kau pasti sangat yakin bisa mengatasi orang selevelku dengan mudah... Seharusnya kau beri perintah lain tadi."

"Adof..."

Tanpa menunggu Pahlawan menyelesaikan ucapannya, Adoff menancapkan pedang besarnya ke dada Pahlawan.

image_00039

【Mendapatkan 1040 poin pengalaman.】 【Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 1040 poin pengalaman.】 【Level Ouroboros naik dari 58 menjadi 60.】

Akhirnya, Pahlawan mati. Poin pengalamannya hanya setara dengan Kelabang Raksasa, mungkin karena statusnya sudah turun drastis.

【Mendapatkan Skill Soul Append: Fake Life: Lv1.】

Barusan, rasanya aku mendapatkan skill yang mengerikan begitu saja.

"...Terima kasih, Naga."

Adoff melepaskan tangannya dari pedang besar itu.

"Aku tidak berniat mengayunkan pedang lagi. Ambillah pedang itu."

6

Aku dibawa oleh Adoff menuju arah tempat eksekusi Harenae. Sepertinya semua orang sudah mengungsi, jadi tidak ada orang di sana.

Di balik bayangan bangunan, ada tiga orang ksatria. Meskipun tubuh mereka gemetar ketakutan melihatku, mereka tidak terlihat ingin menghunus pedang. Di belakang ketiga ksatria itu, ada Ball Rabbit... dan juga Nina.

Dia selamat. Tidak ada luka sedikit pun. Ketiga ksatria itu mungkin melindungi Nina atas perintah Adoff. Aku menghela napas lega. Kerabat Adoff yang ditahan seharusnya juga ada bersama mereka, tapi sepertinya sudah dievakuasi.

"...Tuan Naga, 'kan?"

Nina mendongak menatap wajahku.

Kawanku memanjangkan lehernya mencoba maju mendahuluiku, jadi aku memberinya sundulan ringan. Membingungkan, jadi diamlah dulu sekarang. Yah, meskipun kau juga diriku sih.

"Tuan Naga, sungguh, terima kasih banyak-nya. Padahal Nina cuma budak yang bahkan dibuang oleh orang tua sendiri... demi Nina yang seperti ini, sampai melakukan..."

Sebelum menyelesaikan kalimatnya, Nina menangis tersedu-sedu dan berjongkok di tempat. Aku mengelus kepala Nina dengan kaki depanku perlahan, nyaris tak menyentuh, berhati-hati agar kuku-kukuku tidak melukainya.

Saat berevolusi menjadi Plague Dragon, aku berpikir tidak akan pernah lagi berhubungan dengan manusia seperti ini... Hidup, atau lebih tepatnya hidup naga, memang tidak bisa ditebak.

...Nah, aku tidak boleh membuat Harenae semakin kacau. Sebaiknya aku segera pergi dari sini.

"Gah?"

Aku bersuara pada Adoff.

'Kata Adoff, apa yang akan kau lakukan?'

Ball Rabbit menjadi penerjemah.

"...Aku berniat membuat gereja mengakui ketidakbersalahanku dan meminta mereka menghapus segel ini. Ada urusan keluarga juga. Setelah itu, aku berencana meninggalkan negara ini."

Yah, itu langkah yang wajar. Sebenarnya aku ingin dia ikut karena ada Nina, tapi sepertinya Adoff dan para ksatria masih harus bergerak mengurus urusan dengan pihak gereja. Kalau semua orang yang terlibat kabur begitu saja, kekacauan besar bisa terjadi.

...Tapi, apa kau yakin bisa menang? Kalau salah langkah, kau bisa dijebloskan ke penjara lagi.

"Tenang saja. Mereka tidak mungkin mendiamkan kejadian yang disaksikan oleh begitu banyak mata. Mereka pasti akan bergerak untuk memutus hubungan sepenuhnya dengan Irushia. Wibawa gereja juga jatuh karena kejadian ini. Mereka tidak akan bisa bertindak semena-mena seperti sebelumnya."

...Be-begitu ya. Itu bagus sih, tapi setiap kali nama itu disebut, perasaanku jadi campur aduk.

'Adoff.'

"Hm?"

'Irushia, nama.'

Setelah mengirimkan Telepathy, Ball Rabbit melirik ke arahku. Rupanya Ball Rabbit tahu namaku. ...Atau lebih tepatnya, mungkin dia membaca pikiranku setiap kali nama Irushia disebut.

Adoff terdiam selama beberapa detik, lalu sepertinya akhirnya mengerti, dan mengerutkan bibirnya seolah merasa bersalah.

"Kau selalu memberikan reaksi aneh, aku sudah menduga jangan-jangan... Be-begitu ya. Jadi begitu rupanya. Tapi, siapa yang memberimu nama seperti itu... ti-tidak, maaf."

A-aku dulu punya wujud yang lebih menawan tahu...!

"...Namun, dengan hilangnya Pahlawan, bantuan dari negara lain mungkin akan terputus."

Adoff berkata demikian, lalu menatap sebuah bangunan tinggi. Sepertinya itu bangunan milik gereja.

Ja-jadi begitu ya. Rasanya kok jadi tidak enak...

"Ah, maaf. Tidak seharusnya aku membicarakan hal ini di depanmu. Tenang saja, bantuan itu pun sejak awal hanya dinikmati oleh petinggi gereja. Keadaan tidak akan menjadi lebih buruk dari sekarang."

Mau bagaimana pun tetap saja bobrok.

Benar-benar tidak apa-apa nih tempat ini? Yah, meskipun aku peduli pun, tidak ada yang bisa kulakukan.

Aku membungkuk, membiarkan Nina dan Ball Rabbit naik ke punggungku.

"Guoooh!"

Aku mengaum pada Adoff.

"...Jika kau tidak ada, bajingan itu pasti akan terus dibiarkan bebas. Kesempatanku untuk membalas dendam juga akan hilang selamanya. Aku berterima kasih dari lubuk hatiku, Naga... tidak, Irushia."

Kata-kata perpisahan itu sepertinya tersampaikan walau tanpa penerjemah.

Aku menendang tanah dan terbang ke angkasa. Bangunan-bangunan semakin mengecil. Di tengah jalan aku membalikkan badan, melepaskan pandangan dari Adoff yang menatapku.

Aku meninggalkan Harenae.

"...Tuan Naga, sebenarnya, namanya Irushia ya. Menurut saya itu nama yang sangat cocok dan bagus-nya. Bolehkah Nina memanggil begitu mulai sekarang?"

Saat sedang terbang, Nina menyapaku. Aku bereaksi agak lambat karena terpaku pada kata 'mulai sekarang'.

"Gah!"

Kawanku menyahut seenaknya. Dasar... yah, tidak perlu dikoreksi juga sih.

Aku melirik Nina dari sudut mataku. Dia sedang menatapku. Seolah-olah dia tahu mana yang asli. Atau mungkin dia menyadarinya dari reaksiku tadi.

"Ano, Tuan Irushia... apakah mulai sekarang, Tuan akan terus bersama Nina?"

Aku ragu sejenak, lalu menggelengkan kepala. Berbohong pun tidak ada gunanya.

"...Begitu, ya. Tidak boleh merepotkan Tuan lebih dari ini, ya."

Nina pasti merasa cemas berada di pemukiman manusia. Dijadikan budak, ditendang jadi umpan kelabang, dan akhirnya nyaris dieksekusi di depan umum... Kalau dia tidak trauma justru aneh.

Tapi, aku memiliki Dragon Scale Powder. Sudah jelas jika aku membawanya, gejala kutukan itu akan muncul lagi dalam beberapa hari. Selain itu, mulai sekarang pun pasti akan banyak bahaya menghadang. Masalah tempat tinggal baru, juga masalah Suara Dewa. Mustahil, aku tidak bisa membawa Nina.

"...Maafkan saya-nya."

Nina bergumam pelan.

"Sebenarnya, Nina sudah tahu sejak lama. Bahwa Tuan Irushia berusaha menjauh demi kebaikan Nina. Tuan Irushia juga terlihat kesepian... Nina tahu kalau melihat wajah Tuan. ...Maaf sudah bicara seolah memanfaatkan perasaan Tuan dengan bilang merepotkan atau semacamnya-nya."

...Begitu ya. Ekspresi monster buas pun ternyata bisa tersampaikan pada manusia.

Dengan status Nina, dia tidak akan bisa hidup layak di dunia monster. Manusia memang harus hidup di tengah manusia. Itu adalah hal yang tidak bisa kulakukan sekarang, jadi aku merasa iri, ironis sekali.

Ball Rabbit, tolong sampaikan pesan.

"Pefu?"

Ada negara di dekat sini yang menyerukan perlindungan bagi manusia hewan. Aku akan membawanya ke sana.

'Nina, ingin bersama...'

Itu tidak mungkin. Kau tahu itu, kan.

'Tapi...'

Aku juga ingin begitu. Kalau kau yang bisa membaca hati sampai berkata begitu, aku mengerti kalau Nina sangat takut pada pemukiman manusia. Aku mengerti, tapi tetap saja... itu seharusnya lebih baik daripada mati.

Ini negara yang direkomendasikan Adoff. Aku berpikir mungkin Nina bisa hidup baik di sana. Kau juga tidak ingin Nina mati, kan?

"Pefuu..."

Aku juga khawatir. Meninggalkan Nina sendirian di tempat yang asing. Aku hanya tahu tentang Ardesia dari cerita Adoff. Aku tidak tahu kehidupan seperti apa yang menantinya di sana. Mungkin ini tidak bertanggung jawab. Tapi, hanya ini satu-satunya cara.

7

Kami terbang sekitar setengah hari. Sekitar sudah gelap gulita, dan bulan menggantung di langit. Akhirnya terlihat sebuah kota raksasa yang dikelilingi tembok luar. Itu negara yang diceritakan Adoff, Ardesia.

Jika maju lebih jauh, kami mungkin akan terlihat oleh manusia di kota. Masih agak jauh, tapi aku memutuskan untuk mendarat.

Apa yang harus dilakukan dari sini? Karena ada batu penolak monster berjejer, seharusnya tidak ada monster... tapi kalau bisa, aku ingin mengantarnya sampai ke dekat negara itu.

Haruskah aku menggunakan wujud manusia dan ikut? Tapi, Human Form milikku belum sempurna. Aku berhasil masuk ke Harenae sambil menyembunyikan wajah... tapi di perjalanan aku sangat dicurigai. Di Harenae, pasti sudah beredar rumor bahwa itu adalah naga yang menyamar jadi manusia. Aku tidak tahu bagaimana Adoff atau Hagen akan menjelaskan hal itu. Itu akan tergantung pada bagaimana penerimaan masyarakat dan bagaimana gereja ingin merangkum ceritanya.

Nantinya, jika cerita tentang naga berwujud manusia menyebar dari Harenae ke Ardesia, ada kemungkinan kesan terhadap Nina menjadi buruk dalam beberapa kasus. Memang dikatakan bahwa secara hubungan kekuatan, Harenae tidak akan menuntut penyerahan Nina dari Ardesia, dan aku ingin percaya Adoff akan sedikit membela kami... tapi tetap saja, aku ingin menghilangkan segala kekhawatiran. Berpisah di sekitar sini dan mengawasinya dari jauh untuk memastikan tidak ada kejadian tak terduga adalah yang terbaik.

Aku menghentikan langkah dan menurunkan Nina.

"Tuan Irushia, Tama-chan... selama ini, sungguh, sungguh terima kasih banyak-nya... Apa kita, apa kita... pasti bisa bertemu lagi, kan?"

image_00040

Baik aku maupun Ball Rabbit terdiam, tak bisa menjawab.

"Gah!"

Lagi-lagi Kawanku menjawab duluan. ...Kau ini benar-benar tidak bisa baca situasi ya. Tidak, apa justru kau sengaja melakukannya karena paham situasi?

"Guoh!"

Aku pun menjawab mengikuti Kawanku.

Ball Rabbit juga... Ball Rabbit? Ada apa? Ini terakhir kalinya, katakanlah sesuatu...

Tiba-tiba, aku merasakan hawa keberadaan dari belakang. Manusia. Rupanya dia mendekatiku sambil menghilangkan hawa keberadaannya.

Gawat. Ini dekat wilayah negara, seharusnya aku lebih waspada.

Sambil menoleh ke belakang, aku mengibaskan ekor dengan ringan ke sekeliling. Benar-benar ringan. Aku tidak berniat membunuh.

Debu pasir berterbangan. Ujung ekorku mengenai tubuh lawan dan mementalkannya. Sepertinya dia berhasil menangkisnya dengan baik.

"Guh!?"

Lawan yang terpental itu adalah seorang pria berambut biru laut. Dia jatuh dengan punggung menghantam tanah berpasir, menimbulkan cipratan pasir.

"Minggir, bodoh! Apa yang kau lakukan, Cain! Makhluk raksasa seperti ini bukan lawan yang bisa kita hadapi! Cepat kembali ke negara dan lapor!"

Di belakangnya lagi, berdiri seorang pria yang menunggang kuda.

"A-anak kecil dan kelinci itu sedang diserang tahu!"

Pria berambut biru laut, Cain, bangkit berdiri. Sepertinya bibir Cain tergigit saat terbentur tanah, darah menetes dari sana. Dia segera menyeka darah itu dengan punggung tangannya.

Pelindung lengannya hancur. Rupanya dia tidak sanggup menahan satu serangan ekorku. Tapi, kalau Nina sih masih wajar, apa Ball Rabbit juga terlihat seperti pihak yang diserang...? Padahal menurut cerita Adoff, Ball Rabbit dianggap hewan peliharaan karena sifatnya yang lembut.

"Kalau kita yang menemukan ini musnah semua, Ardesia akan diserang naga saat sedang lengah! Kalau begitu, entah berapa banyak orang yang akan mati!"

"Asal tidak musnah semua tidak masalah, kan! Kalau begitu, Anda pergilah duluan!"

"Cih! Dasar orang yang cari mati, terserah kau!"

Pria berkuda itu memacu kudanya memutar untuk menghindariku, lalu menuju ke arah Ardesia.

"Anak di sana, kau baik-baik saja!"

Cain berteriak pada Nina melewati tubuhku.

"Tu, tunggu dulu-nya! Bukan begitu! Tuan Irushia... Tuan Naga ini, menolong Nina..."

Aku menghempaskan ekorku ke tanah. Tanah retak dan berguncang hebat. Nina terjatuh.

"Kyaa!"

"Sial! Aku akan menolongmu sekarang!"

Cain memasang kuda-kuda dengan pedangnya dan melompat menyerang.

Kalau aku menceritakan tentang diriku, kemungkinan besar malah akan menimbulkan kecurigaan yang tidak perlu. Memberikan kesan buruk di pertemuan pertama itu gawat. Lagipula, aku tidak akan masuk ke Ardesia dengan wujudku yang sekarang. Jika dia salah paham bahwa mereka sedang diserang, itu justru lebih menguntungkan.

Akan sulit menjelaskan bagaimana mereka bisa sampai di sini, tapi mereka bisa bilang berjalan kaki, atau ada orang yang memberi tumpangan kereta kuda sampai setengah jalan, alasannya bisa dicari nanti. Aku menatap Kawanku dengan tatapan yang menyiratkan "jangan lakukan hal yang tidak perlu".

"Guuoooooooooh!"

Sambil mengaum, aku menginjak tanah tepat di depan mata Cain dengan kaki depanku. Cain melompat ke atas kaki depanku, dan langsung menebas ke arah wajahku yang menjulur.

"Flame Slash!"

Pedang yang diselimuti api menebas pipiku secara horizontal.

"Guhok!"

Aku memang berniat sengaja menerima serangan itu, tapi kerusakannya lebih besar dari dugaan. Lumayan juga orang ini.

Aku menarik leher dengan cepat dan mundur ke belakang. Kalau aku menerima satu serangan telak begini, bisa jadi alasan untuk melarikan diri.

"Pefuu!?"

Tiba-tiba, saat itu Ball Rabbit jatuh dari tubuhku. Dia melipat telinganya hingga kusut, menggunakannya sebagai bantalan untuk meredam dampak jatuhnya dengan baik. Hebat sekali Ball Rabbit. Saat aku hendak memungut Ball Rabbit yang terbalik, aku menyadari tatapan Ball Rabbit tertuju pada Nina yang sedang terjatuh.

...Ternyata, dia khawatir ya. Tentu saja. Sepanjang perjalanan, mereka selalu terlihat akrab.

Kalau Ball Rabbit, dia seharusnya bisa ikut masuk ke Ardesia bersama Nina. Kalau Ball Rabbit jadi pengawalnya, Nina akan aman. Dia cerdas dan serba bisa.

Ball Rabbit bangkit dan menatapku.

Oi, Ball Rabbit, apa yang ingin kau lakukan? Aku tidak punya Telepathy, jadi aku tidak tahu apa yang kau pikirkan. Tapi, jangan-jangan kau sudah memikirkan hal itu dari tadi?

"Pe, pefu..."

Ball Rabbit hanya menatapku dengan wajah sedih, dan tidak menggunakan Telepathy. Itu adalah jawaban yang lebih fasih daripada kata-kata apapun.

"Uoooooooh!"

Cain menyerang lagi, mencoba memberikan serangan susulan padaku.

Aku mengalihkan pandangan dari Ball Rabbit dan mundur ke belakang. Lalu aku menendang tanah dan terbang ke udara.

Cain mengarahkan pedangnya padaku sebagai gertakan. Aku membalikkan badan, memunggungi Cain.

Setelah mengambil jarak, aku menoleh sedikit ke belakang. Cain menurunkan pedang yang diarahkan padaku, dan menghela napas lega.

Saat aku menggeser sedikit pandanganku, Ball Rabbit sedang menatapku.

"Pefu! Pefuuu!"

Terima kasih, Ball Rabbit. Berkatmu, gurun pasir ini tidak terasa sepi sepanjang waktu. Meskipun rasanya jadi agak sibuk karena itu... aku juga sudah berulang kali diselamatkan olehmu.

Hidup memang tak terduga. Padahal aku memungutmu hampir karena iseng, berpikir untuk menyuruhmu menggali rumah. Tidak, mungkin saat itu pun aku hanya mencari alasan karena ingin teman perjalanan.

Aku terbang lurus ke arah timur. Aku berpikir tidak boleh menoleh ke belakang. Cain mungkin akan curiga, dan tekadku mungkin akan goyah.

Namun meski berpikir begitu, aku terus menoleh ke belakang berkali-kali sampai Ball Rabbit hanya terlihat seperti sebuah titik.

© 2026 Yozuku Novel. All rights reserved.